Monday, February 14, 2011

Buku Yang Sedih

Ini adalah bacaan kami minggu ini.

 


Buku yang di sebelah kiri_ "Menari di Pelangi" karangan Ayunda_baru dibeli minggu lalu untuk MissKriwil. Ini adalah buku serius pertamanya. Serius karena ini adalah buku pertamanya yang akan dia baca sendiri. Dia sudah punya banyak buku sebelumnya, hanya saja, selalu mengandalkan saya untuk membacakan. Oh iya, ini juga adalah buku pilihannya sendiri. Saya rasa karena itu dia mau membacanya sendiri :)


Buku yang kedua, “Untuk Bunda dan Dunia” saya beli beberapa tahun lalu, karena kagum pada Faiz, anak kecil yang berhati sedalam samudra.  Buku itu berisi puisi-puisi karangan Faiz (waktu itu masih berusia 8 tahun) tentang berbagai hal dalam kehidupannya, mulai dari Bunda hingga keadaan negeri ini. Kata-katanya, meski sangat polos dan anak-anak, terasa sangat tajam dan menyentuh.  Kejujuran dan ketulusan sangat kuat terasa dalam bukunya. Ketika membeli buku ini, saya berharap suatu hari anak saya akan bisa membaca dan mengambil pelajaran dari sana.

Karena itu, tadi siang, melihat si Kriwil giat sekali membaca buku sendiri (yang adalah merupakan lompatan besar dalam hitungan bulan), saya jadi teringat untuk menunjukkan buku Faiz tadi.

Dia membaca-baca sekilas dan memperhatikan ilustrasi yang ada di setiap halaman. Lalu komentarnya: buku ini ceritanya sedih sekali, Bunda :)

Saya terdiam sejenak. Berpikir. Masa sih?
Lalu saya mengambil buku itu dari tangannya. Penasaran, ingin tahu bagian mana yang menurutnya sedih.

Ya semuanya, Bunda.

Sedih kenapa?

Ya sedih aja.

Saya membolak balik halaman buku itu. Membaca sekilas puisi-puisi di dalamnya. 

Saya  masih ingat sebagian besar puisi di buku itu. Membaca kembali puisi-puisi Faiz sungguh menyejukkan. Saya seperti  sedang duduk di pinggir danau, memandangi airnya yang bening dan tenang, meresapi keheningan yang khidmat.

Bunda sebetulnya mau baca yang mana sih?

Misskriwil sepertinya bingung karena dari tadi saya membolak balik halaman buku itu tanpa berhenti pada satu halaman tertentu.

Sebetulnya, yang bingung itu saya. Melihat sekilas puisi-puisi dalam buku itu, saya bisa mengerti kenapa si Kriwil merasa isinya terasa sedih. Tapi saya bingung, bagaimana ya menjelaskannya supaya dia bisa melihatnya dari sisi yang lain?


Saturday, February 12, 2011

Your Job is Not Your Career




"We are meaning-seeking creatures. If our lives lack a clear sense of meaning, if we are not engaged in some larger purpose, we will not be fully satisfied, regardless of whatever else we may have"


Kutipan di atas diambil dari sebuah blog post di Harvard Business Review.
Waktu membacanya, saya langsung teringat pada bukunya Rene Suhardono Your Job is Not Your Career.


Saya harus berterimakasih kepada Hikki yang sudah merekomendasikan bukunya Rene ini kepada saya. Buat sebagian orang, buku ini mungkin sudah mendorong mereka untuk berani mengevaluasi keadaan mereka saat ini dan kemudian mencari passion-nya. Buat saya, yang sudah lama berada dalam peperangan batin soal pekerjaan dan passion, buku ini sudah membuka mata saya dan memberikan pemahaman baru soal karir dan pekerjaan, dan memberi saya semangat berlipat-lipat untuk terus menghidupkanpassion yang saya miliki.


Saya bersyukur dengan pekerjaan yang saya jalani sekarang. Mungkin saya termasuk dari sedikit orang-orang yang beruntung yang bisa menyukai dan menikmati pekerjaan yang saya miliki. Meskipun, saya belum termasuk golongan orang-orang yang lebih beruntung lagi, yaitu mereka yang bisa melakukan apa yang mereka sukai. :)


Saya menyukai pekerjaan saya saat ini. Tetapi saya tahu, ada suara-suara lain dalam diri saya yang menuntut untuk didengar dan dituruti.


Rene menganjurkan kita untuk do only what you love doing. Tanpa mengecilkan kesulitan keadaan beberapa orang yang mungkin kurang beruntung dan tidak memiliki pilihan sebanyak orang-orang lainnya, saya mengerti apa yang dimaksud oleh Rene. Mencintai apa yang kita lakukan itu baik. Tapi selagi bisa, kenapa tidak mencoba melakukan apa yang kita cintai.


Dalam bukunya, Rene banyak bicara soal fulfillmentFulfillment itu penting. Begitu juga dengan suara-suara dalam diri saya itu. Saya tahu bahwa dengan menuruti mereka, saya akan menemukan fulfillment yang lebih besar dari yang saya dapat dari melakukan pekerjaan saya sekarang. Dan ini sempat membuat saya gundah gulana selama beberapa waktu.


Sebelumnya, saya selalu berpikir bahwa kedua hal ini, pekerjaan dan passion, jika tidak sejalan, maka harus saling mematikan. Tapi pikiran saya berubah setelah membaca bukunya Rene. Uraian-uraiannya sudah membuka mata saya, bahwa kedua hal itu, meskipun tidak sejalan, bisa didamaikan. Pilihannya sangat jelas, change, walk away, or change your attitude.


Sepanjang pemahaman saya, yang ingin ditekankan oleh Rene dalam Your Job is not Your Career bukan tentang apa yang akan kita pilih (karena itulah saya merasa buku ini positif sekali), tapi lebih kepada bagaimana menemukan, memahami, dan menghidupkan passion yang kita miliki. Menghidupkannya terus menerus dalam diri kita, terlepas dari apapun pekerjaan kita. Rene bicara soalfulfillment.
Kata Rene, pekerjaan bukanlah karier. Pekerjaan adalah sesuatu yang kita kerjakan setiap hari, yang membuat kita terikat dengan suatu badan atau organisasi. Karier adalah sesuatu yang lebih personal.
Karir itu adalah bagian dari diri kita, bagaimana kita ingin didefinisikan dan diingat oleh orang-orang di luar diri kita. Karier itu adalah sesuatu yang melekat pada diri kita, di mana pun kita bekerja saat ini.
Tidak semua orang punya privilege untuk melepaskan pekerjaannya dan menuruti passionnya. Dan memang tidak perlu begitu. Karena itulah saya merasa Rene begitu positif :). Dia sudah mengingatkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana menemukanpassion kita, dan menghidupkannya, dan memperoleh fulfillment yang lebih besar. Saya rasa saya setuju dengan Rene. Once you’re fulfilled, then everything else will follow.
Pekerjaan mungkin tidak bisa kita lepaskan, begitu pula dengan passion. Karena dengan itulah kita bisa mengeluarkan yang terbaik dari diri kita, dan otomatis pula memberikan yang terbaik bagi orang lain di sekeliling kita.


Rene mengajak kita untuk bertanya, apa sih sebenarnya tujuan kita dalam hidup. Ia mengingatkan kita, bahwa kita memang harus punya tujuan yang lebih besar dalam hidup. Lebih besar dari sekadar memperoleh jabatan dan gaji. Tujuan besar tapi sederhana.


Apakah makna keberadaan kita di dunia ini, dan apa kontribusi yang sudah kita berikan?
Dia mengingatkan kita untuk menghargai diri kita sebagaimana diri kita sendiri, bukan kita sebagai karyawan di perusahaan ini, atau berbagai atribut lain yang melekat pada kita.


It’s about personal branding at its best.  :)

Membaca adalah sebuah perjalanan




Apa yang paling Anda sukai dari membaca?
Anda termasuk tipe pembaca yang seperti apa?
Apakah Anda pembaca yang selalu penasaran dengan akhir cerita? Pembaca yang menikmati kegelisahan dan rasa penasaran? Atau pembaca yang selalu mulai dari halaman terakhir cerita?


Kebetulan saya termasuk golongan yang terakhir J. Karena saya duga tidak banyak orang yang masuk dalam golongan tersebut, tentu boleh saya berbagi cerita sedikit tentang mengapa saya selalu mulai membaca dari halaman terakhir.


Menebak-nebak akhir cerita sebuah buku bukanlah bagian yang saya sukai dari kegiatan baca membaca. Karena itu, saya tidak pernah membenci spoiler. Malah saya cinta sekali pada spoiler. Saya tidak termasuk pembaca yang mau repot-repot menahan diri untuk tidak mengetahui akhir cerita sebelum membaca buku.
Self indulgement? Bisa jadi. Pengecut? (karena tidak berani memulai sesuatu tanpa mengetahui bagaimana akhirnya). Mungkin juga. Saya merasa lebih enak membaca buku kalau saya sudah tahu bagaiman akhir ceritanya. Saya jadi tahu bagaimana harus menyetel mood saya. Jadi ini semacam mekanisme untuk menghindari rasa kecewa, jika ceritanya tidak seperti yang diharapkan. Saya selalu mulai membaca buku dengan melihat dua halaman terakhirnya. Meskipun tidak selalu bisa memberikan gambaran mengenai akhir cerita, paling tidak saya sudah tahu apa yang akan saya temui di ujung nanti.


Lalu ada yang bertanya, jadi untuk apa lagi membaca bukunya dari awal?


Karena, bagi saya, yang terpenting dari membaca buku adalah kegiatan membacanya itu sendiri. Membaca buku bagi saya bukanlah main ‘perang-perangan’ atau ‘kalah-menang’ dengan si penulis. Ceritanya terlalu gampang ditebak, twistnya basi, dan sebagainya. Bagi saya, itu semua tidak masalah.
Membaca itu, seperti sebuah perjalanan. Yang penting adalah apa yang kita temukan ketika kita berjalan dari satu halaman ke halaman lainnya, dan bukan apa yang ada di halaman yang akan menjadi akhir perjalanannya itu.


Ini tentang proses.


Membaca adalah proses pertemuan kita dengan satu ide dan ide lainnya yang terserak di baris-baris kalimat sebuah buku. Membacanya adalah perjalanan mengunjungi dan berkenalan dengan gagasan-gagasan dalam cerita, meleburkan diri di dalamnya, menjadi bagian darinya meskipun hanya untuk waktu yang sangat singkat, lalu berpindah ke halaman lain, dan menemui gagasan yang lain pula.


Mungkin saja kita sudah tahu kalau di akhir cerita nanti, si A akan menikah dengan si B. Tapi apakah kita tidak ingin tahu bagaimana sampai si B mau menerima pinangan si A?
Kalaupun kita sudah tahu kenapa si B mau menerima pinangan si A, paling tidak, kita tentu ingin tahu, apa yang si B pikirkan ketika menerima si A? Bagaimana pikirannya bekerja, secara tidak sadar mungkin, menghubungkan berbagai alasan (misalnya: A adalah teman masa kecil, A baik hati, B dan A mengenal satu sama lain dengan baik, lebih baik A daripada tidak sama sekali, dan lain-lainnya) yang ada dalam kepalanya untuk diramu menjadi satu baris alasan utama kenapa dia harus menikah dengan A.


Saya, sungguh ingin tahu bagaimana pikiran para tokoh dalam cerita itu bekerja. Proses yang mereka lalui untuk sampai pada suatu hal. Apa yang mereka lakukan dan pikirkan, dan mengapa itu penting bagi mereka. Plot dan ending yang tidak tertebak adalah sebuah bonus. Sajian utamanya adalah kata-kata dan gagasan yang berserakan di halaman-halaman buku.


Kita selalu mencomot sesuatu dari apa yang kita baca atau kita tonton, dan itu tidak selalu bisa didefinisikan seperti “pelajaran” atau “moral of the story”. Moral of the story adalah sesuatu yang kita ambil dengan sadar dan sukarela, kadangkala dengan bantuan dari endorser atau reviewer. Tetapi ada hal-hal lain yang juga kita peroleh ketika kita membaca sebuah cerita.


Sesuatu yang subtil, seperti semangat, kegairahan, atau kesedihan. Ketika membaca, tanpa sadar kita menyerap hal-hal itu dan menyimpannya dalam diri kita. Itu adalah jejak yang ditinggalkan sebuah buku pada diri kita.  Hal-hal yang membuat kita kembali lagi untuk menemui cerita-cerita yang ada di dalam sebuah buku.
Karena itulah, ada saat-saat saya merasakan kerinduan yang sangat pada buku-buku Agatha Christie. Kerinduan ingin merasakan ketegangan yang terselubung, dan kerinduan mengamati proses bekerjanya pikiran Hercule Poirot. Ada kalanya saya merasa kangen sekali pada buku Divakaruni, misalnya. Karena saya rindu, tidak hanya pada bahasanya yang puitis, tetapi juga pada eksotisme dan nuansa India yang tidak pernah absen dari setiap bukunya.


Kita merasakan kerinduan pada suasana yang ditawarkan sebuah buku pada kita.


Membaca, buat saya, adalah seperti bercermin.


Jadi,  tidak perlu sebal ketika membaca buku kalau ceritanya biasa-biasa saja. Semua cerita adalah apa yang 
sudah terjadi di dunia ini (kecuali science fiction tentunyaJ). Sebuah cerita fiksi sekalipun, selalu memiliki hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari di dalamnya. Karena yang menulis adalah juga manusia.
Kenapa melengus kalau si orang jahat lama matinya, atau si orang jahat bertobat? Bukankah kedua hal itu sama saja? Sering terjadi di belahan manapun di dunia ini.
Cerita cinta, cabangnya memang hanya empat: jadian, putus, selingkuh, atau tidak ketiganya, tapi mencintai diam-diam dari jauh. Cerita keluarga, cabangnya adalah: anak baik orang tua baik, orang tua berantakan anak baik, orang tua berantakan anak berantakan, orang tua tidak akur anak sedih, dan seterusnya dan seterusnya.
Hampir selalu ada hal-hal itu dalam sebuah cerita. Selalu ada yang berulang. Karena seperti itulah kehidupan. Selalu ada yang bisa dilihat di dalam sebuah cerita, meskipun tidak selalu berguna untuk kehidupan. Dan itu sendiri, adalah sebuah pelajaran.


Membaca seperti melihat bagaimana bagian-bagian dari diri kita (ternyata) terhampar di sepanjang baris-baris kalimat dalam buku, sebagai satu keping dari ribuan keping puzzle cerita, ide, karakter. Selalu ada sesuatu yang ‘mirip’ diri kita di sana. Oh, inilah saya si menyebalkan. Oh, rasanya saya kenal yang ini, hem, tentu saja, ini adalah impian masa kecil. Oh, yang ini kok rasanya seperti menyindir saya ya. Dan seterusnya.
Kita merefleksikan diri kita pada huruf dan baris. Kita berusaha mencari-cari sepotong diri kita pada huruf dan baris. Kita menemukan sesuatu yang lain selain diri kita pada huruf dan baris.


Seperti itulah menurut saya membaca buku

Masih Juga Membaca



Coba tebak? 
Ya, saya masih bertahan dengan Fragile Things-nya Neil Gaiman.

Memang banyak godaan sih. Selain Lord of the Rings nya Hikki, juga godaan untuk kembali membaca buku-buku karya penulis Indonesia lagi :) *bukan apa-apa sih, selama ini kan rajin membaca yang berbahasa Inggris semata-mata untuk menjaga kelancaran berbahasa Inggris saja -- ya meskipun tidak lancar-lancar amat juga--karena ya, saya termasuk orang-orang yang sangat mengandalkan 'eksposure' dalam hal berbahasa asing :D. Banyak terekspos membantu kelancaran, jarang terekspos jadinya gagu.

Tapi akhir-akhir ini keinginan untuk membaca karya-karya sastra Indonesia jadi menggebu-gebu lagi. Kalau tidak salah bermulai dari buku NH Dini yang tergeletak di kamar Nyokap.

Semakin memperburuk reading habit saya, kemarin saya memutuskan untuk memesan buku-buku di bawah ini (terlepas dari banyaknya buku di rak buku yang belum saya sentuh):
  1. Sembilan Matahari
  2. 5 cm
  3. Muhammad Yang Tak Biasa
  4. Kronik Betawi
  5. Dan, saya mulai membaca kembali Laba-Laba karya Gus tf Sakai.
Jadi, saat ini ada tiga buku yang sedang saya baca: Lord of The Rings, Fragile Things, dan Laba-Laba.
Tuhan, mudah-mudahan itu tidak terlalu optimis ya :|

Bintaro, Minggu dinihari, 2 May 2010, 00.10

My Reading Habit


Rite. Still about me having problem in reading one book at a time.
Okay let’s see? What was the last book I managed to finish reading? I guess it was The Historian, like almost 10 months ago.
Ok, I had trouble keeping up reading The Historian.
The book is so full of dates and places and historical events and landmarks. Am never really good with history, except for my own. So it took me extra effort to keep up with the story time line (it uses flashback and third person narrative sometime).
And to complicate matter, the whole details about historical dates and events, were perfectly blended in to the core of the story. Good for the writer. Not for me.
Most of the events recounted in the book were unintelligible to me.  All of the places that they mentioned in the book, I’ve never been there. I’ve never seen the building. Not even the replica.  So I  could not fully grab the feeling.
But I still think it is a great book that everyone should read.
Yes of course, I know, the look of the book itself is already intimidating. A book that thick (around 650 pages if I’m not mistaken), with so many ‘obstacles’ (haha) in it. If you’re not someone majoring in ancient history you’ll probably end up with the same problem as I did.
But I think it’s a good start to learn something about that ancient history subject, even though you might think it’s not important. I think it’s good to know and learn about things that had influenced and formed the world we live in now, as ancient as they might be.
And if such a mystical figure in the story can be a historian, then I shouldn’t be so surprised with the recent news about Sir Keith Richards, the guitarist of Rolling Stone, who wants to be a librarian.
Anyway, it took the writer 10 years of research to write the book. So I suppose I can forgive my self for not being so smart and ignorant of all the details
I’m reading the Neil Gaiman’s Fragile Things. Still in the first pages, brief explanation of each story in the book. That’s when I started to see a clearer picture.
Fragile Things is a collection of short stories. Reading it gives me the soothing and dreamy feeling. It’s a book to be read while sitting alone (on the train, or in the cafĂ©, by the window, sipping a coffee or tea, rainy days, ok enough with that).
But I started to understand what has been happening with all the books I read and haven’t finished for  like years. It’s because we tend to read a book that suits our mood. At least that’s the case for me.
I just couldn’t force myself to keep reading The King of Torts, or The Lost Symbol, or Akhenaten. Because they just don’t match the mood I’m in now. (well I might go with Lima Menara, but I just keep forgetting that it’s in my bag). Forcing my self to read them would make the whole reading activity pointless. It is against my principle of reading (*oh so noble), which is to experience the journey, instead of merely finishing what I have started.
Which got me thinking, it must be a very hard work for a Libra to finish one book at a time, considering their massive mood swing…
But of course I always have a little dose of Hercule Poirot every now and then. Never fails me
So, yeah, I guess I’ll continue with the Fragile Things.
Let’s see how long I’d stay with it haha

My Life in Ruins


Ok, I got a confession to make.
I am a bookworm. But I watch movies too. Lots of them.
Thus this blog will also be about movies. Just like the book, it’s not always the popular ones. Only movies I love.
Yesterday i finally watched My Life in Ruins. I bought the DVD simply because i feel represented by the title.
It is a story of Georgia (Nia Vardalos), a woman who has lost its kefi (passions for life) and decided to return to her root in Greece to reinvent her self. She then became a tour guide. A very knowledgeable guide with a passion to share the greatness of Greek history details to her tourists. Which was despised by her boss.
Georgia always gets the lowest evaluation score from her tourist group. She was frustrated by the fact that most of the tourists were only care about T-Shirt and souvenirs. She has always been convinced that someday there will be a group of tourist that come to Greek to admire  the ancient sites and ancient ruins. Her boss thinks Georgia is dreaming, and planned to kick her off the company.


One particular tour, with the misfits group of tourists, has led Georgia to  a personal detour. She was forced to change her uptight attitude and redefine her life goal.
I think it was a nice movie. Well, definitely not of those perfect flawless drama. There were some stereotyping (tipsy Australians, man-thirsty Spanish divorcees), which I think kind of annoying to be found in such movies).
But still, to me it has the soothing effect. Err, it could be because I’m still in this wanderlust-walking-away-from-the-world-mode on.
Anyway, I think it is the kind of story that many people can relate to. Loosing direction in life, reinventing our self, the urge to be away from the whole world, a boring life, non existent romance. It’s everyone’s life story, told with the background of beautiful sceneries, with beautiful lines about life and being true to self.
But what I like most is Georgia’s frustration when realizing that no one, no tourist, is really interested in the facts and figures about Greek history. I could feel her disappointment, her isolated feeling, in knowing that what you like and what you believe is the very thing that isolated you from the whole world. That by being you, somehow, is what make you feel unsent.


I feel you Georgia.




-a very selfish, self-centered, self-mirroring review-

Change




Been watching The Proposal for the second times (and continued with My Life in Ruins and 27 Dresses).


Been reading Ms. Christie and feeling less interested than usual.


Been trying to find anything interesting in my ebooks folder and failed.


Ended up with Bridget Jones’ Diary.


Been reading it for two days now.  Page 47 of one hundred fifty something already.


I’ve changed.


Definitely.


Now i know it.


*sigh

Out of the Dust


Author: Karen Hesse


I heard the wind rise,
and stumbled from my bed,
down the stairs,
out the from door,
into the yard.
The night sky kept flashing,
Lightning danced down on its spindly legs.
I sensed it before I knew it was coming.
I heard it,
smelled it,
tasted it.
Dust.
(Fields of Flashing Lights)


It was actually taken from a chapter of Out of the Dust, a story written in free-verse poems. Set on the dust bowl of Oklahoma, the verses tells a story about Billy Jo, a little girl trying to survive from the dusty seasons.


Life in the dust bowl was hard. People of the dust bowl know that they could not hold on to their homeland. The nature they lived in was their biggest enemy.  Storms of dust were always come sweeping everything; planted seeds, soils, wheat, along with everyone’s hopes and dreams. Even the rain was not a friend. As Billy Jo said:


And as the dust left,
rain came.
Rain that was no blessing.
It came too hard,
too fast,
and washed the soil away,
washed the wheat away with it.


Billy Jo lived in the Oklahoma dust bowl with her parents, Ma and Daddy. Her Daddy was one of those men who hold on tightly to their homeland no matter what the dust storm brought them. He believed in wheat. Wheat was all he wanted to plant. When the dust storm came, he would run into it, trying to haul it away from his hard works. Most of the time he failed, and there was nothing that he can do except to plant another seeds on the next day.


Ma was a woman that according to Billy Jo never meant for farm life. Yet she was there doing farm chores, a woman that could not stand a mess in her house, and a good pianist.
From time to time Billy Jo thought that her Ma must have had a bigger dream long ago.


Living with the two parents, a Daddy that was struggling to keep up his hope and refused to give in to the nature, and a Ma that kept a very strong regret deep inside her, Billy Jo found her comfort in piano, just like her Ma.
After Ma died, Billy Jo was completely alone. There was a big gap between her and her Daddy. They rarely spoke to each other until one day Billy Jo decided it was time hor her to leave the house and find another place to live.


My father’s digging his own grave,
he calls it a pond,
But I know what he’s up to
He is rotting away.
like his father,
Ready to leave me behind in the dust
Well, I’m leaving first


This is one of those books that I know I would never be able to finish. Just like McCourt’s Angela’s Ashes.
It’s a story of misery presented in a tone that somehow far from trying to make the reader feel the sadness. The tone itself was an unspoken sentence. Sometimes you would think you sense a strong denial there. A denial that is so bitter, that only add more misery in it.


While Angela’s Ashes’ was praised for its playful tone in telling McCourt’s miserable childhood, Out of the Dustnarrates Billy Jo’s miserable life in a very flat tone. And since it’s a poem, I think it has the convenience to use the space and punctuation mark as a sentence. Even the empty space between the two lines tells a lot.


Piano, my silent
Mother,
I can touch you,
You are cool
And smooth
And willing
To stay with me
Stay with me
Talk to me


Suggestion: If you’re in bad mood or you think you need some light reading to refresh your mood, do not read this book. It’s every word is contagious, spreading sadness that will silently crawling in to your mind. Like i said before, even the empty spaces do say a lot.But should you feel like you need some journey with beautiful words, beautifully pictured sad story about family and how love and spirit helps people survive everything, this book will be a good reading




Bintaro, March0108, 9.58 pm

Queen of Dreams


Author: Chitra Banerjee Divakaruni


Once again i have built a nonsense relation with a book, that usually ends up with returning the book to the shelf before even finished it.

Reading the early pages of Queen of Dreams, led me to the nuance of the dim early morning light in Harafish, and the intangible mysery that filled the air like in Sister of My Heart. It’s the feeling that always come over me everytime i read Mahfouz or Divakaruni. But even so, each of them has their own beauty. A different beauty in each reading.

By reading the poetry-like sentences that spread already from the first pages, i’d suspected that it would be another book i would failed to finished. Another Angela’s Ashes or even another Sister of My Heart. Books i failed to finished on fear of facing the implicit mysery.

But Queen of Dreams is beautiful indeed. As i went throught the first pages, i can already sensed the sadness pricking, and it was not a usual sadness. It was something more complicated. Something that has to do with being mentally isolated while physically obliged to fight the world, just like everyone else that passes the street every morning, hurried in their duty to survive and earn life. And yet it described in a swifting, daydreaming-like, sentence.

From my first encounter with the character of Rakhi, i could already tell what i’d find in the next pages of her narrative. It was a narrative of confusement, weary, and uneasy feeling about life. Actually it was quite nice, i mean, the narrative was telling about the gloomy situation, in a cynical yet cheerful and optimistic way, an angry to life-perfectionist-but-lousy-young mother way.
Just..my way it is:)

I started to mirrored my self in Rakhi and surprised of the emotion mix. It’s a surprise to find so many mixtures and opposite emotions. It’s a surprise to see how things going in wrong direction. How my life__just realized this__is like a traffic jam where everything is standing on each other’s way and demanding more and more attention. It’s a topsy turny life. And yet i also found how funny it is. You can only realize it after seeing it in somebody else’s life. It’s like your life has been perfect all this time and there’s nothing to be laughed at. While actually there was.

Your life has been somewhat confusing. A person you used to believed and you have gave your life to turned out to be not so much as what it seemed. The storm is coming. The sky is falling. Your life is failing. Hands are around but no one seems to fit your need. There was always something behind. You can’t feel your hand nor your feet. They were always seem to move in directions that you never planned. They seemed to be no longer your hand and feet. They don’t like you and they won’t obey you. They betray you. Just like your faith did.

And there it is. That’s what would happen when you lost your faith. You lost everything.You feel numb. Your life goes on but it’s not a life you used to know. Things are turning their back on you. Your job is silly, and money is away. You areon the road, on the bus, on the train, on your desk, with the computer, with the friends, with hundreds of people in bus station, but you are not a part of the world.
There were always something you can’t see. There were always something beyond your comprehension. And that makes you feel more lonely. Your daughter is the only thing that kept you from giving up.

Reading the book to me was like talking to a good friend. Sharing the same thing and knowing that it is okay to be stupid sometimes. That it is okay to get angry to life sometimes. And the most important thing is to stand up again and it is also okay to choose any way you like in doing that. Be selfish when it comes to you and your daughter’s life. Let the world just watch.

So again, i have to admit that this lady Divakaruni is a very smart, and deep-hearted writer. She talked about mother-daughter relationship in a way that would surprise you. Revealing things you didn’t realize all this time in your mother-daughter’s life.

I guess it has touched me that far because of the similarity. But i’m sure that only a deep-hearted person can dig that deep too.

Membaca Akhenaten


Sedang membaca Akhenaten.


Lagi berjuang untuk bisa menyelesaikannya sampai akhir. Kenapa ya? Padahal saya (pikir) saya sudah jatuh cinta pada buku ini sejak pandangan pertama (*eh?).


Saya baru sampai di halaman 25 dari 97. Long way to go huh?


Sedikit cuplikan, buku ini  mengingatkan saya pada Kitab Omong Kosong-nya Seno, yang berangkat dari kisah tentang Rama dan Shinta.


Akhenaten bercerita tentang sejarah dinasti Firaun. Akhenaten adalah raja yang pada masanya itu dianggap bid’ah karena memperkenalkan konsep Tuhan Yang Satu, dan menentang agama keturunan nenek moyangnya. Seperti mengingatkan pada kisah Nabi apa ya?


Cerita diawali oleh Meriamun, seorang anak yang kebetulan melintasi sisa-sisa kerajaan Akhet-Aten. Penasaran akan apa yang terjadi dengan kerajaan itu, Meriamun kemudian melakukan ‘penelitian’ dengan menemui beberapa orang terdekat Akhenaten pada masa itu, termasuk istrinya Nefertiti.


Nah, karena ceritanya disampaikan melalui banyak sudut pandang, jadi memang harus bersabar mengikutinya.


Dan saya baru terpikir, saya mungkin  memang punya masalah dengan buku-buku seperti ini.
Ini beberapa buku yang pernah saya baca yang menggunakan lebih dari satu sudut pandang orang pertama:
  1. The Moonstone – Wilkie Collins
  2. My Name is Red – Orhan Pamuk
  3. A Study in Scarlet (Sherlock Holmes)
  4. dan satu karyanya Agatha Christie, lupa judulnya
Buat saya, semuanya memang menguji kesabaran


Harus tahan membaca cerita yang hampir sama dari narator yang berbeda-beda (kadang bisa lebih dari 5), dengan sedikit detail yang berbeda di sana dan di sini.


Sejauh ini, saya baru sampai di narator ke-3 di Akhenaten. Mudah-mudahan tidak berhenti di tengah jalan lagi ya…


Feb 27, 2010